1. LATAR BELAKANG K3
 Salah satu upaya utk menjaga dan memenuhi Hak Azazi Manusia agar tetap sehat dan selamat
 Upaya pemenuhan aspek legal baik Nasional maupun Internasional
 Salah satu upaya dlm efisiensi biaya (cost effectiveness)
 Mengamankan suatu sistem kegiatan/pekerjaan mulai dr input, proses maupun output
 Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan manusia yg terlibat dlm sistem kegiatan tsb dlm rangka meningkatkan kesejahteraan
2. PENERAPAN UU
• Belum adanya Peraturan Pemerintah yang mengatur K3 secara menyeluruh sebagai pelaksanaan Undang-undang Keselamatan Kerja.
• Peraturan Perundangan K3 dalam bentuk Standar jumlahnya masih sangat terbatas dan banyak yang tidak sesuai lagi dengan ilmu dan tehnologi mutakhir.
• Terdapat tumpang tindih pengaturan K3 yang dilaksanakan berbagai instansi teknis
• Pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan perundangan K3 masih belum efektif dan menyeluruh
• Sistem pelaporan K3 belum dilaksanakan sesuai peraturan yang berlaku
• Penegakan hukum terhadap pelanggaran peraturan perundangan K3 sangat lemah.
• Kesadaran dan komitmen pengusaha dan pekerja terhadap K3 masih belum tinggi, K3 masih dianggap sebagai beban dalam biaya belum sebagai kebutuhan bagi kegiatan.
• Panitia Pembina K3 diperusahaan yang wajib dibentuk belum terlaksana sesuai peraturan yang berlaku
• Sistem Manajemen K3 yang diharapkan dapat meningkatkan pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja di perusahaan dan sekaligus akan meningkatkan efisiensi dan produktivitas, masih mengalami kendala.
• Hal tersebut disebabkan karena tingkat pemahaman terhadap SMK3 masih rendah, kurang sosialisasi dan biaya audit dirasa memberatkan.
• Kendala terhadap implementasi peraturan perundangan K3 juga terjadi karena fihak perusahaan masih ingin mencari jalan pintas dengan cara berkolusi dengan para pengawas.
• Seringkali sarana K3 dipenuhi sesuai peraturan tetapi kualitasnya dipilih yang lebih rendah karena pertimbangan biaya. Pengusaha belum menyadari bahwa keselamatan dan kesehatan kerja merupakan hak dasar pekerja dan produktivitas dapat ditingkatkan apabila para pekerjanya dalam kondisi sehat, selamat dan bahagia.
SOLUSI
• Dimasa depan usaha pemerintah di bidang K3 harus ditujukan untuk menghadapi tantangan global serta untuk mengatasi kendala dan berbagai permasalahan K3 yang ada saat ini, agar mampu meningkatkan kualitas efisiensi dan produktivitas dalam memenangkan persaingan di pasar bebas.
• Untuk menghadapi tuntutan internasional tersebut maka ada tiga hal pokok di bidang K3 yang akan mendapat perhatian pemerintah, yaitu :
1. Sistem Manajemen K3
2. Standarisasi K3
3. Sertifikasi Kompetensi SDM K3
• Sistem Manajemen K3 yang saat ini sudah diberlakukan perlu direvisi disesuaikan dengan Rekomendasi ILO tentang SMK3 (ILO Recommendation on OSH.MS).
• Saat ini sedang disiapkan sistem Standardisasi Nasional K3 oleh Depertemen Tenaga Kerja yang mendapat dukungan sepenuhnya dari Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional (DK3N). Nanti semua standar yang dihasilkan akan ditetapkan sebagai standar Nasional Indonesia (SNI) saat ini baru ada kurang dari 50 SNI di bidang K3 sedang di dunia internasional berjumlah raturan standar K3
• Departemen Tenaga Kerja sedang menyusun sistem Akreditasi dan Sertifikasi kompetensi tenaga kerja secara umum. Sedangkan DK3N telah berprakarsa membantu berdirinya Lembaga Sertifikasi Kompetensi K3 yang telah di deklarasikan tanggal 12 Januar i 2000 dan saat ini sedang diusahakan akreditasi dari Badan Standardisasi Nasional (BSN).
3. SUHU DAN KENYAMANAN DITEMPAT KERJA
Ada 4 faktor klimatik pertukaran panas :
1. Temperatur udara (konveksi)Aliran udara (konveksi)
2. Temperatur yg berdekatan dg tubuh manusia (radiasi)
3. Kelembaban udara relatif (evaporasi keringat)
4. Dasar Fisiologi Suatu Kenyamanan
1. Internal climate su/ ruangan selama masih dlm batas kenyamanan tdk akan ada masalah, jika sudah berada di luar batas kenyamanan akan menjadi masalah.
2. Ketidaknyamanan dpt menjadi sebuah gangguan atau bahkan akan menimbulkan efek2 psikologis ataupun nyeri fisiologis
Menurut Grandjean : kondisi panas sekeliling yg berlebihan akan mengakibatkan rasa letih dan kantuk, mengurangi kestabilan dan meningkatnya jumlah angka kesalahan kerja.
Kondisi dingin yg berlebihan akan mengakibatkan rasa malas, mengurangi kewaspadaan dna konsentrasi.
• Rentang kenyamanan : 2 – 3 o C
• Rentang temperatur manusia merasakan kenyamanan berbeda-beda tergantung : jenis pakaian yg dipakai dan aktifitas fisik yg dilakukan
RADIASI PENGION
• Radiasi pengion adalah jenis radiasi yang dapat menyebabkan proses ionisasi (terbentuknya ion positif dan ion negatif) apabila berinteraksi dengan materi.
• Yang termasuk dalam jenis radiasi pengion adalah partikel alpha, partikel beta, sinar gamma, sinar-X dan neutron.
• Setiap jenis radiasi memiliki karakteristik khusus. Yang termasuk radiasi pengion adalah partikel alfa (α), partikel beta (β), sinar gamma (γ), sinar-X, partikel neutron. EX: RONTGEN DAN KEMOTGERAPY
RADIASI NON PENGION
• Radiasi non-pengion adalah jenis radiasi yang tidak akan menyebabkan efek ionisasi apabila berinteraksi dengan materi.
• Radiasi non-pengion tersebut berada di sekeliling kehidupan kita.
• Yang termasuk dalam jenis radiasi non-pengion antara lain adalah gelombang radio (yang membawa informasi dan hiburan melalui radio dan televisi); gelombang mikro (yang digunakan dalam microwave oven dan transmisi seluler handphone); sinar inframerah (yang memberikan energi dalam bentuk panas); cahaya tampak (yang bisa kita lihat); sinar ultraviolet (yang dipancarkan matahari).
BAHAYA
• Bahaya adalah segala sesuatu sumber baik dalam bentuk substansi/kondisi tertentu yang mempunyai potensi untuk menyebabkan kerugian (Loss)

RESIKO
• Resiko adalah kemungkinan suatu kerugian akan terjadi karena bahaya
APD
• Kekurangan Alat Pelindung Diri (APD) :
1. Kebanyakan dr APD yg ada didisain utk ukuran pekerja di Kanada, Eropa & Amerika, shg mgk tdk pas utk pekerja Asia
2. Peralatan tsb dibuat khusus hanya utk jenis bahaya tertentu
3. Peralatan tsb hrs sering diinsfeksi dan dirawat
4. Beberapa jenis peralatan hrs diganti agar efektif
5. Beberapa jenis peralatan menciptakan bahaya baru, spt panas bagi pemakai, mengurangi daya penglihatan, pendengaran, mencengkram, tdk nyaman dan tdk praktis utk dipakai
6. Merupakan sistem pengendalian yg paling lemah
7. Digunakan sbg cara yg terakhir utk melindungi pekerja jika pengendalian teknik dan administratif tdk mungkin dilakukan atau dlm keadaan darurat
8. APD tdk menghilangkan ataupun mengurangi bahaya yg ada, tetapi hanya mengurangi jumlah kontak dg bahaya dg menempatkan penghalang
• Kemampuan perlindungan yang tak sempurna karena (memakai APD yang kurang tepat,cara pemakaian APD yang salah, APD tak memenuhi persyaratan standar)
• APD yang sangat sensitive terhadap perubahan tertentu.
• APD yang mempunyai masa kerja tertentu seperti kanister, filter dan penyerap (cartridge).
• APD dapat menularkan penyakit,bila dipakai berganti-ganti.
AKIBAT KEBISINGAN
 Adalah perubahan pada tingkat pendengaran yang berakibat kesulitan dalam melaksanakan kehidupan normal, biasanya dalam hal memahami pembicaraan.
1. Auditory Effect
pengaruh bising thd organ pendengaran
Secara umum pengaruh bising terhadap organ pendengaran dapat dikategorikan menjadi tiga jenis, yaitu:
A. Trauma Akustik
Pada trauma akustik terjadi kerusakan organik telinga akibat adanya energi suara yang sangat besar. Efek ini terjadi akibat dilampauinya kemampuan fisiologis telinga dalam sehingga terjadi gangguan kemampuan meneruskan getaran ke organ corti. Kerusakan dapat berupa pecahnya gendang telinga, kerusakan tulang-tulang pendengaran, atau kerusakan langsung organ corti
B. Noise-Induced Temporary Threshold Shift ( NITTS )
 Seseorang yang pertama sekali terpapar suara bising akan mengalami berbagai perubahan, yang mula-mula tampak adalah ambang pendengaran bertambah tinggi pada frekwensi tinggi
 Pada tingkat awal terjadi pergeseran ambang pendengaran yang bersifat sementara, yang disebut juga NITTS.
 Apabila beristirahat diluar lingkungan bising biasanya pendengaran dapat kembali normal.
 Diakibatkan pemaparan terhadap bising dengan intensitas tinggi.
 Seseorang akan mengalami penurunan daya dengar yang sifatnya sementara dan biasanya waktu pemaparan terlalu singkat.
 Apabila tenaga kerja diberikan waktu istirahat secara cukup, daya dengarnya akan pulih kembali.
C. Noise-Induced Permanent Threshold Shift ( NIPTS )
Dikatakan bahwa untuk merubah NITTS menjadi NIPTS diperlukan waktu bekerja dilingkungan bising selama 10 – 15 tahun, tetapi hal ini bergantung juga kepada:
 Tingginya level suara
 Lama paparan
 Spektrum suara
 Temporal pattern, bila kebisingan yang kontinyu maka kemungkinan terjadi TTS akan lebih besar
 Kepekaan individu
 Pengaruh obat-obatan, beberapa obat-obatan dapat memperberat (pengaruh synergistik) ketulian apabila diberikan bersamaan dengan kontak suara, misalnya quinine, aspirin, dan beberapa obat lainnya
 Keadaan Kesehatan
2. Non Auditory Effect
Pengaruh bising thd gangguan komunikasi, ancaman bahaya keselamatan, menurunya performan kerja, stres dan kelelahan
a. Gangguan Psikologis
Gangguan emosional, susah tidur, gangguan komunikasi yang secara tidak lansung dapat membahayakan tenaga kerja
b. Gangguan Fisiologi
Pada umumnya kebisingan yang bernada tinggi sangat mengganggu terlebih lagi yang suaranya terputus-putus atau datang sacara tiba-tiba dan tidak terduga
KONSEP KESEIMBANGAN ERGONOMI
 dg tujuan Tercapainya efesiensi kerja
 Terciptanya sistem kerja yg aman
 Minimasi resiko kesehatan krn cara kerja yg salah
 Terciptanya kenyamanan kesehatan
 Meningkatkan produktivitas kerja
what
Tentang optimalisasi fungsi manusia terhadap aktivitas yang dilakukan
why
Dari pengalaman menunjukkan bahwa setiap aktivitas atau pekerjaan yang dilakukan, apabila tidak dilakukan secara
ergonomis akan mengakibatkan ketidak nyamanan, biaya tinggi, kecelakaan dan penyakit akibat kerja meningkat, performansi menurun yang berakibat kepada penurunan efisiensi dan daya kerja. Dengan demikian, penerapan ergonomi di segala bidang kegiatan adalah suatu keharusan.
where
dilakukan dimna saja, baik diingkungan rumah, di perjalanan, di lingkungan sosial maupun di lingkungan tempat kerja.
when
dapat diterapkan kapan saja dalam putaran 24 jam Sehari semalam, sehingga baik baik pada saat bekerja, istirahat maupun dalam berinteraksi sosial kita dapat melakukan dengan sehat, aman dan nyaman
who
Setiap komponen masyarakat baik masyarakat pekerja maupun masyarakat sosial harus menerapkan ergonomi dalam upaya menciptakan kenyamanan, kesehatan, keselamatan dan produk- tivitas kerja yang setinggi-tingginya.
how
Untuk dapat menerapkan ergonomi secara benar dan tepat, maka kita harus mempelajari dan memahami ergonomi secara detail. dalam penerpan ergonomi diperlukan suatu seni, agar apa yang akan diterpakan dapat diterima oleh pemakainya dan memberikan manfaat yang besar kepadanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s